Totok syaraf

pengobatan syaraf kejepit, HNP, Vertigo, low back pain

Tentang Penyakit Scoliosis

Waspadai Scoliosis

Tonjolan di punggung, disertai sering sakit kepala, kram, kesemutan dan gejala lainnya, merupakan tanda-tanda scoliosis yang sering tidak terdeteksi pada masa kanak-kanak. Padahal setelah remaja, scoliosis bisa menyebabkan tekanan jiwa pada penderitanya.

“Saya terdeteksi menderita scoliosis tahun 1994 ketika duduk di bangku kelas 1 SMP,” demikian tutur Prita (25 tahun). Tidak ada gejala khusus yang membuatnya curiga, kecuali sering sesak napas dan kesulitan ketika harus menjalani beberapa gerakan pada saat olahraga (sit-up dan roll-over). “Jika dipaksakan, punggung sava terasa sakit,” ujarnya. Prita pun memeriksakan diri ke dokter. “Saya diminta dokter membungkuk sambil menahan napas. Ketika itulah baru diketahui bahwa sava menderita scoliosis, tulang punggung saya bengkok ke kanan,” katanya. Memang tampak punggung Prita bagian kanan sedikit lebih menonjol dibanding yang kiri.

Prita masih dianggap beruntung karena kelengkungan scoliosis yang dideritanya sekitar 30 derajat, masih termasuk ringan. Namun dengan berjalannya waktu, penderitaan Prita pun bertambah. “Nyeri punggung merupakan siksaan yang sudah terbiasa saya tanggung, terutama di malam hari atau seusai melakukan kegiatan fisik yang berat,” tuturnya. Dan kini seharian di kantor dan duduk berlama-lama di depan komputer, penderitaan Prita pun bertambah dengan sakit kepala dan leher yang menjalar hingga punggung dan pinggul.

Scoliosis bisa muncul dengan gejala lain. Mungkin Anda pernah melihat seseorang yang pundaknya miring, yang kiri lebih rendah dari yang kanan (atau sebaliknya). Atau Anda pernah melihat seseorang yang sikap berjalannya miring disebabkan pinggulnya tinggi sebelah. Bisa jadi mereka adalah penderita scoliosis yang gejalanya tidak terdeteksi ketika masih kecil.

Scoliosis perlu ditangani dengan baik, karena seiring dengan pertumbuhan badan si anak, scoliosis bisa mengganggu postur tubuh sehingga membuat penderitanya menjadi minder Tidak hanya itu, penderita scoliosis pun akan `diteror’ oleh rasa sakit dan sesak napas yang berkepanjangan, karena ketidakwajaran bentuk tulang belakang dapat mengganggu fungsi organ tubuh.

Deteksi gejala scoliosis sangat diperlukan, agar Anda bisa mengetahui secara dini apakah seseorang cenderung menderita scoliosis. Apa saja yang harus diwaspadai, dan apa yang harus dilakukan jika seseorang terdeteksi scoliosis?

Kelainan Bentuk Tulang Belakang

Scoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang yang ditandai melengkungnya tulang belakang ke arah samping (lateral curvature of the spine). Kata scoliosis berasal dari bahasa Yunani scolios yang artinya bengkok atau berputar. Kelainan tulang punggung ini tampak jika dilihat dari belakang.

Jika dilihat dari samping tulang belakang yang normal berbentuk huruf S yang memanjang (elongated S). Bagian depan atas sedikit melengkung ke arah luar dan bagian belakang bawah sedikit melengkung ke arah dalam. Jika dilihat dari belakang, tulang punggung yang normal berbentuk garis lurus dari leher sampai ke tulang ekor. Sedangkan pada penderita scoliosis, akan tampak adanya satu atau lebih lengkungan ke samping yang tidak wajar pada punggung.

Seorang anak didiagnosa scoliosis jika ditemukan dua macam kelainan pada tulang belakangnya, yaitu:
• Lateral curvature: terjadi jika tulang belakang bengkok. Ini bisa dilihat dari belakang ketika penderita pada posisi berdiri dengan tubuh dibungkukkan 90 derajat ke depan. Jika tulang tampak seperti huruf S, bentuknya menyimpang, punggung tidak sama tinggi atau ada tonjolan, berarti scoliosis.

• Rotation: terjadi jika ada sendi tulang belakang yang terputar. Kadarnya hanya sedikit, namun selalu ada pada setiap gejala scoliosis. Aspek ini menyebabkan tulang belakang berbentuk berliku. Penyimpangan kurang dari 10 derajat dianggap masih normal.

Penyebab Scoliosis

Dokter Michael Cornish, chiropractor lulusan RMIT, Melbourne, Australia, yang berpraktik di klinik Chiropractic di Indonesia, mengatakan. “Secara keilmuan, penyebab scoliosis tidak diketahui. Namun, secara spekulatif, saya menduga salah satu penyebabnva adalah pola makan yang salah dan postur tubuh yag kurang baik.” Senada dengan pernyataan tersebut Dr Tinah Tan, Chiropractor dari Citylife Chiropractic, mengatakan bahwa kekurangan asam folat pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko sambungan spina tulang belakang pada bayi yang dikandung menjadi tidak sempurna (cacat spina bifida). Keadaan ini dapat memicu scoliosis.

Sedangkan menurut Dr Luthfi Gatam, SpOT, spesialis ortopedi & traumatologi dari RS Fatmawati, bahwa 80% scoliosis tidak diketahui penyebabnya. Ini disebut idiopathic scoliosis. Kata idiopathic menunjukkan bahwa penyebabnya tidak diketahui. Usia penderita bisa di bawah 3 tahun sampai di atas 19 tahun.

Ada juga scoliosis yang diketahui penyebabnya, yaitu dikategorikan sebagai congenital scoliosis atau kelainan bawaan. Ini disebabkan oleh perkembangan tulang belakang yang tumbuh abnormal. Termasuk kelompok ini adalah sindrom kerdil (osteochondrodystrophy). Contoh-contoh tersebut termasuk kategori scoliosis struktural.

Ada pula scoliosis non-struktural yang disebabkan adanya masalah dengan bagian tubuh lain. Misalnya kaki yang tidak sama panjang, sehingga terjadi lengkungan abnormal pada tulang belakang. Kejang otot dan radang otot juga bisa menimbulkan kelainan tulang belakang. Jika penyebab scoliosis didiagnosa non-struktural, penanganannya bukan reposisi tulang belakang melainkan reposisi bagian tubuh yang menyebabkan scoliosis tersebut.

Dari Rasa Sakit sampai Sesak Napas

Kasus scoliosis memerlukan pemeriksaan atau check-up pada waktu-waktu tertentu secara reguler. Dari 1000 penderita anak, 3-5 anak penyakitnya berkembang menjadi lebih parah. Keadaan ini memerlukan penanganan khusus seperti penggunaan brace, terapi kbusus bahkan banyak yang menjalani operasi. Pada orang dewasa scoliosis yang diderita biasanya merupakan kelanjutan kelainan dari masa kanak-kanak yang tidak ditangani dengan baik. Bisa juga akibat proses degeneratif yang terjadi pada sendi-sendi tulang belakang.

Menurut Dr Tinah Tan, seorang chiropractor, kondisi tulang belakang yang tidak sempurna akan menyebabkan fungsi organ yang ada di dalam tubuh menjadi terganggu. Contohnya, scoliosis bisa menghambat pergerakan rusuk dan volume paru-paru (pulmonary hipertention) sehingga penderita sering sulit bernapas (sesak papas). Inilah yang dialami Prita.

Penderita scoliosis juga lebih mudah terkena osteoartritis akibat pergerakan sendi yang terhambat pada satu sisi. Selain itu, scoliosis juga menyebabkan kelelahan tulang dan sendi, sehingga penderitanya sering merasakan nyeri, sakit kepala, kaku otot, atau pegal punggung. Sedangkan penderita lain, Ade Rose (31 tahun) mengalami gejala kesemutan dan kejang kaki ketika hamil. Tingkat keparahan Ade 36 derajat. Setelah melahirkan gejala semakin parah ditambah badan pegal dan kaki kanan ngilu. Menurut Dr Tinah Tan, scoliosis yang parah bisa menyulitkan proses persalinan. Sedangkan Astrid Triandini, penderita scoliosis Yang berusia 21 tahnn, merasakan sakit tulang, pusing kepala, dan ada tonjolan di punggungnya. Tingkat keparahan Astrid 40 derajat.

Scoliosis bisa diderita setiap orang, namun lebih banyak diderita wanita. “Di klinik saya perbandingannva 10:1,” ujar Dr Michael Cornish. Sedangkan di RS Fatmawati rasionya 9:1. “Sampai sekarang masih merupakan misteri, kenapa wanita lebih banyak menderita scoliosis dibanding pria,” kata Dr Luthfi Gatam, SpOT.

Gejala scoliosis biasanya tampak jelas pada usia 9-13 tahun. Ade baru mengetahui dirinya mengalami scoliosis ketika berusia 27 tahun, sedangkan Prita pada usia 11 tahun. Penderita lain, Astrid Triandini (21 tahun) meuyadari ada kelainan tulang belakang ketika duduk di kelas 1 SMU.

Sumber. Majalah Nirmala

Scoliosis (dari bahasa Yunani: ” skolíōsis” berarti “bengkok”) adalah suatu kondisi medis di mana seseorang tulang belakang melengkung dari sisi ke sisi, berbentuk seperti “s”, dan mungkin juga diputar. Untuk orang dewasa dapat sangat menyakitkan. Ini adalah normal lateral kelengkungan tulang belakang. Pada sinar-x, dilihat dari belakang, tulang belakang seorang individu dengan scoliosis khas mungkin tampak lebih seperti “S” atau “C” dari garis lurus. Itu biasanya diklasifikasikan sebagai bawaan (disebabkan oleh vertebra anomali yang hadir pada saat lahir), idiopatik (mensubklasifikasikan sebagai kekanak-kanakan, remaja, remaja, atau dewasa menurut ketika awal terjadi) atau sebagai neuromuskuler, setelah dikembangkan sebagai gejala sekunder kondisi lain, seperti spina bifida, cerebral palsy, tulang belakang otot atrofi atau trauma fisik.

Kondisi dapat dikategorikan berdasarkan sifat busung, atau kelengkungan tulang tulang belakang, kaitannya dengan poros tengah:

  • Dextroscoliosis adalah scoliosis dengan sifat busung di sisi kanan.
  • Levoscoliosis adalah scoliosis dengan sifat busung di sisi kiri.

Kurva scoliotic ° 10 atau kurang mempengaruhi 3-5 dari setiap 1.000 orang. Prevalensi kurva kurang dari 20 ° adalah sama pada pria dan wanita. 2% dari perempuan dan 0,5% dari laki-laki dipengaruhi oleh Scoliosis.

Scoliosis kadang-kadang dikaitkan dengan lain kondisi seperti sindrom Ehler-Danlos (hyperflexibility, sindrom ‘disket bayi’, dan varian lain dari kondisi), Charcot-Marie-gigi, kyphosis, cerebral palsy, tulang belakang otot atrofi, muscular dystrophy, keluarga dysautonomia, biaya sindrom, Friedreich’s ataksia, sindrom proteus, Spina bifida, Marfan’s sindrom, neurofibromatosis, kelainan jaringan ikat, bawaan diafragma hernia, dan gangguan sumbu craniospinal (” misalnya ” syringomyelia prolaps mitral valve, malformasi Arnold-Chiari).

sumber : news-medical.net

Apa itu Skoliosis?

Skoliosis adalah bengkoknya tulang belakang yang tidak normal ke arah kiri atau arah kanan yang menyebabkan perubahan bentuk tubuh. Hal ini dapat mengakibatkan tinggi/rendahnya posisi kepala, posisi pundak dan posisi pinggang. Skoliosis akan mengakibatkan Scapula (tulang bahu bagian bawah) akan menonjol keluar membentuk sebuah bungkuk di bagian sisi sebelah kanan.

Apa penyebab Skoliosis?

Informasi terbaru meyakini bahwa Skoliosis adalah sebuah kombinasi dari masalah genetik dan cedera pada tula

ng belakang. Skoliosis biasanya banyak ditemukan pada wanita muda dari umur 9 sampai 17 tahun.

Apakah bisa disembuhkan tanpa penyangga atau operasi?

Ya. Tergantung pada seberapa banyak perubahan pada tulang belakang, skoliosis dapat dikurangi sehingga skoliosis tidak akan terlihat lagi. Yang paling penting adalah SEGERA PERIKSAKAN SKOLIOSIS ANDA LEBIH AWAL sebelum bertambah parah. Buatlah janji untuk memeriksakannya.

Sumber : terapi_scoliosis

Apa itu Skoliosis/Scoliosis?

Skoliosis adalah kelainan pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang, dimana terjadi pembengkokan tulang belakang ke arah samping kiri atau kanan, atau kelainan tulang berbentuk huruf S.

Penyebabnya secara ilmiah belum terdeteksi jelas, tapi ada beberapa alasan yang dicurigai sebagai penyebab. Bisa karena jatuh, posisi duduk yang tidak benar, dan  kebiasaan membawa barang berat dengan tas tali yang hanya dicangklong di satu bahu–bukan tas punggung. Secara kasat mata, skolioser (penderita skoliosis)–terlebih yang derajat kemiringannya sedikit–tampak seperti orang normal.

Beriku tanda-tanda fisik yang biasanya terlihat dari seorang skolioser.
–  Kedua pundak atau bahu kiri dan kanan tidak sama tinggi.
– Salah satu punggung kiri atau kanan lebih menonjol.
– Pinggul kiri dan kanan tidak simetris, naik sebelah.
– Dada kiri atau kanan menonjol sebelah.
– Posisi berdiri tidak tegak dan lurus.

Selain ciri-ciri fisik, para skolioser juga merasakan keluhan-keluhan seperti:
– Rasa pegal dan nyeri di bagian leher dan tulang belakang.
– Kesemutan dan sakit pada tangan.
– Berkurangnya tenaga pada tangan dalam melakukan aktivitas sehari-sehari seperti membawa tas, mengangkat barang, gelas, payung, dan lain-lain.
– Rasa nyeri pada tulang belikat.
– Sering susah bernapas dan mengalami gangguan tidur.

Sumber : kalintan29

 

January 15, 2013 Posted by | Uncategorized | , , , , , | Leave a comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.